“Pakai AI Aja” untuk SEO, dan Harga yang Dibayar Setelahnya

Utas dari @semmywijaxxxxx membuka dengan kalimat yang sudah sering terdengar: ngapain bayar praktisi SEO, pakai AI saja, sehari bisa bikin ribuan artikel.

Lalu dia menambahkan bagian yang biasanya tidak ikut dibahas. Saat trafik ambruk, siapa yang bertanggung jawab? AI-nya tidak ikut pusing, tagihan layanan tetap jalan, dan pemilik website yang harus beresin masalahnya.

Pola lama dengan mesin baru

Menurutnya, ini bukan hal baru. Tahun 2010-an sudah ada AGC, auto-generated content.

Caranya: bikin halaman sebanyak-banyaknya, sikat semua keyword, yang penting dapat trafik. Pembaca dapat manfaat apa? Dipikir belakangan.

Sekarang prosesnya jauh lebih cepat. Tapi polanya, kata dia, sama saja.

Klien yang menyerahkan semuanya ke AI

Dia bercerita soal salah satu mantan kliennya yang berharap bisa menyerahkan optimasi website sepenuhnya ke layanan AI.

Produksi lebih cepat dianggap bakal membuat trafik makin besar. Ternyata trafiknya justru turun.

Meski begitu, dia tidak langsung menyalahkan AI. Menurutnya, belum tentu AI yang salah.

Trafik turun bukan berarti deindex

Dia mengingatkan agar tidak asal mendiagnosis dari tangkapan layar. Trafik yang turun tidak otomatis berarti situsnya di-deindex.

Tangkapan layar di atas memang memperlihatkan grafik yang jatuh hampir menyentuh nol. Tapi penyebabnya masih harus diperiksa, bukan ditebak dari gambar.

Empat pertanyaan sebelum menerbitkan ribuan halaman

Baginya, berani menerbitkan ribuan halaman harus dibarengi kemampuan menilai ribuan halaman itu.

Mana yang faktanya benar? Mana yang menjawab kebutuhan pelanggan? Mana yang cuma mengulang halaman lain? Mana yang benar-benar mendatangkan calon pembeli?

Kalau jawabannya cuma “kan sudah dibuat AI”, menurutnya di situ masalahnya.

Kapan programmatic SEO berguna

Dia tidak menolak pendekatan ini sepenuhnya. Programmatic SEO bisa berguna kalau setiap halaman punya data dan manfaat yang jelas.

Baca juga  Unlock Efficiency: Convert 1 Long Video into 10 Viral Clips in Minutes with AI

Tapi kalau isinya cuma menggandakan konten untuk mengejar ranking, risikonya nyata. Produksi massal tanpa nilai tambah, tulisnya, bisa melanggar kebijakan spam Google.

Di situlah pengalaman praktisi dipakai

Bukan untuk memutar tombol generate, tapi untuk memilih apa yang perlu dikerjakan.

Membaca data. Menguji sebelum memperbesar skala. Dan berani mengatakan bahwa sebuah halaman tidak layak diterbitkan.

Dia sendiri pakai AI

Dia menyatakan tetap memakai AI. Yang dia tolak adalah menyerahkan keputusan yang menyangkut aset bisnis begitu saja ke tombol generate.

Menurutnya, tidak perlu buru-buru punya sepuluh ribu artikel kalau sepuluh halaman penting saja belum membantu pelanggan.

Dan kalau seluruh strategi bergantung pada celah yang belum ditutup Google, jangan terlalu cepat menyebutnya keberhasilan. Trafik yang sempat naik belum membuktikan bisnisnya punya fondasi.

Tanggapan pembaca

@kang_pribxxxxx menulis setengah bercanda bahwa orang yang memegang SEO sudah siap-siap mau resign. Penulisnya membalas singkat: kalau ambruk, iya.

@juliussssxxxxx berbagi pengalaman lain, bahwa situsnya hanya turun sekitar 15 persen dari artikel lama sebelum dia masuk.

@ridwaxxxxx memilih pendekatan berbeda. Dia menyuruh AI-nya membuat rencana SEO dari skenario A sampai Z: potensi deindex dan index, batasan jumlah artikel, batasan backlink yang sehat, potensi trafik, dan jangka waktu tujuan tercapai. Penulisnya membalas dengan satu kata: nice.

Penutup

Utas ini tidak menawarkan alat atau resep. Isinya satu pertanyaan yang dia lempar ke pembacanya sendiri: kita sedang membangun website, atau cuma berlomba memenuhi internet dengan artikel?

Bagi yang pernah melihat trafik situsnya jatuh dalam semalam, pertanyaan itu terasa lebih mendesak daripada diskusi soal alat.

Sumber utas