
Utas dari @edugamelaxxxxx membagikan workflow membuat aplikasi sendiri memakai AI, dari sudut pandang seorang guru. Pengakuannya di pembuka: dia kecanduan membuat aplikasi untuk mengajar, dan aplikasinya bisa dijual lagi.
Yang dia tekankan sejak awal: workflow ini bisa ditiru, dan gratis. Baik memakai akun Google biasa maupun Google AI Pro.
Masalah utamanya: AI tidak tahu isi kepala kita
Menurut utas ini, AI sebenarnya pintar dan powerful. Tapi ada satu masalah: AI tidak tahu apa yang ada di kepala kita.
Karena itu, jangan langsung bilang “AI, buatkan saya aplikasi ini”. Kita harus tahu dulu mau bikin apa dan hasilnya mau seperti apa.
Langkah 1: cari referensi di Pinterest atau Behance
Pertama, cari referensi desain yang kita suka. Misalnya warna seperti apa, tombolnya bagaimana, layout-nya seperti apa, dan tampilannya mau dibuat seperti apa.
Kumpulkan dulu referensi yang sesuai dengan yang kita bayangkan, supaya punya gambaran jelas sebelum mulai bikin aplikasi.
Langkah 2: masukkan semuanya ke Excalidraw
Setelah dapat referensi, masukkan semuanya ke Excalidraw. Anggap saja ini moodboard kita.
Di sini kita bisa coret-coret, menyusun gambar referensi, membuat sketsa layout, sampai menjelaskan ide yang ada di kepala. Semua ide yang tadinya berantakan mulai kelihatan bentuknya.
Alamatnya: excalidraw.com

Langkah 3: bawa semuanya ke Google Antigravity
Kalau sudah, baru bawa semua referensi tadi ke Google Antigravity atau tools AI coding lainnya.
Punya PDF? Masukkan. Punya contoh aplikasi? Masukkan juga. Ada gambaran fitur yang mau dibuat? Jelaskan semuanya.
Jangan cuma menyuruh AI bikin aplikasi. Kasih tahu juga aplikasi ini untuk siapa, mau digunakan untuk apa, dan bagaimana cara kerjanya.
Langkah 4: pakai Voice Mode
Bagian ini disebut paling menarik. Kalau mau bikin aplikasi, coba gunakan Voice Mode.
Daripada capek mengetik panjang-panjang, mending ngobrol langsung dengan AI. Kita bisa menjelaskan ide, warna, fitur, layout, sampai detail kecil yang diinginkan.
Menurut penulis utas, cara ini jauh lebih nyaman untuk brainstorming dan menghemat waktu saat menjelaskan ide yang kompleks.
Langkah 5: tes, lalu publish jadi PWA
Jangan lupa tes dulu semua fiturnya. Kalau ada yang kurang sesuai, tinggal arahkan AI untuk memperbaikinya.
Kalau sudah siap, aplikasi bisa di-publish menjadi PWA, sehingga bisa diinstal di HP maupun PC.
PWA dijelaskan di utas sebagai progressive web apps, tanpa Play Store dan App Store.
Langkah 6: jadikan produk digital
Misalnya kamu guru Bahasa Inggris. Kamu bisa bikin aplikasi untuk membantu murid belajar, lalu tawarkan ke tempat les Bahasa Inggris.
Kalau kamu mentor, tutor, atau punya keahlian lain, pikirkan bagaimana keahlian itu bisa dijadikan aplikasi yang bermanfaat untuk orang lain.
Jadi bukan cuma dipakai sendiri, tapi bisa dikembangkan menjadi produk digital yang menghasilkan uang. Menurut penulis utas, AI coding ini powerful kalau kita tahu workflow-nya.

Contoh hasilnya: RBT App
Penulis utas juga membagikan contoh aplikasinya sendiri, RBT App, yang dibuat gratis memakai model tersebut plus Antigravity.
RBT App ditujukan untuk pengajar, baik di sekolah, kursus, dosen, tutor, mentor, maupun trainer. Dia juga menyebut bahwa sekarang banyak educator dan student mendapat akses Google AI Pro atau Gemini Pro secara gratis.
Isi aplikasinya delapan modul, dari keselamatan bengkel sampai coding. Rinciannya: Keselamatan Bengkel, Desain Berbantuan Komputer, Mekanika dan Sistem Gir, Pemrograman dan Mikrokontroler, Sketsa dan Gambar Teknik, Dasar Elektronika dan Rangkaian, Teknologi Manufaktur, dan Tanaman Hidroponik. Semua modul terbuka.

Penjelasan visualnya
Penulis utas menyebut bahwa dia memvisualisasikan alur ini supaya lebih mudah dipahami.
Dia juga menyertakan tautan untuk versi step by step yang lebih detail, termasuk cara menjual produk digitalnya.

Aplikasi versi 2.0
Di bagian lain utas, penulis mengumumkan aplikasinya sudah rilis update 2.0. Aplikasi itu disiapkan khusus untuk guru, educator, dan pemula yang mau belajar membuat educational app sendiri, worksheet, atau game edukasi.
Dituliskan bahwa materinya step by step, mudah dipahami, dan tidak perlu pandai coding. Cukup belajar fundamental vibe coding. Isinya antara lain cara membuat kuis, game, dan bahan pembelajaran interaktif.
Kalimat penutupnya: welcome to the new era of education, di mana guru, dosen, dan mentor bisa membuat app sendiri.

Mentoring dan biaya
Penulis utas menyebut juga menerima mentoring 1 on 1 dan mempersilakan menghubungi lewat DM.
Di kolom balasan, @dew_nixxxxx menanyakan biayanya. Dijawab: 55 ribu saja.
Jawaban itu disertai penawaran aplikasi berisi materi belajar AI dan pembuatan educational app dalam satu tempat: step-by-step untuk educator, fundamental AI, belajar membuat educational app, ide dan tutorial game pembelajaran, tutorial mudah untuk beginner, dan all-in-one tanpa perlu pandai coding. Alamatnya lpindo.edugamelabs.com.

Tanggapan pembaca
@ayxxxxx menulis bahwa dirinya juga membuat aplikasi pembelajaran, tapi lewat ChatGPT, dan berterima kasih atas sharingnya. @kyxxxxx dan @visualexxxxx memberi pujian singkat.
@pawon_ummuhxxxxx menulis berminat. @gpwssingxxxxx menulis “nyimak”.
@any_vixxxxx bertanya ke @mexxxxx soal platform apa saja yang dipakai dan apa fungsi masing-masing, dan belum dijawab di utas.
Ringkasan alurnya
Referensi desain dari Pinterest atau Behance, dituangkan jadi moodboard di Excalidraw, dibawa ke Google Antigravity bersama PDF dan contoh aplikasi, dijelaskan lewat Voice Mode, dites, lalu dipublish sebagai PWA. Setelah itu baru dipikirkan sebagai produk digital yang bisa dijual.
